TERAPIS PSIKOANALISA (SIGMUND
FREUD)
Freud adalah seorang Jerman
keturunan Yahudi, pada masa kebangkitan Hitler, ia harus melarikan diri ke
Inggris dan meninggal di London tanggal 23 September 1939. Freud secara
skematis menggambarkan jiwa sebagai sebuah gunung es. Bagian yang muncul dipermukaan
air adalah bagian yang terkecil, yaitu puncak dari gunung es itu, yang dalam
hal kejiwaan adalah bagian kesadaran (consiousness) Agak dibawah permukaan air
adalah bagian yang di sebutnya prakesadaran (Subconsiousness atau
Preconsiousness). Isi dari prakesadaran adalah hal-hal yang sewaktu-waktu dapat
muncul kekesadaran. Bagian yang terbesar dari gunung es itu berada di bawah
permkaan air sama sekali dan dalam hal jiwa merupakan alam ketidaksadaran
(unconsciousness). Ketidaksadaran ini berisi dorongan-dorongan yang ingin
muncul ke permukaan atau mendesak ke kesadaran. Dorongan-dorongan ini mendesak
terus ke atas, sedangkan tempat di atas sangat terbatas sekali. Tinggallah
“ego” (aku) yang memang menjadi pusat dari kesadaran yang harus mengatur
dorongan-dorongan yang manayang harus tetap tinggal di ketidaksadaran. Sebagian
besar dari doronga-dorongan yang berasal dari ketidaksadaran itu memang harus
tetap tinggal dalam ketidaksadaran, tetapi mereka ini tidak tinggal diam,
melainkan mendesak terus dan kalau “ego” tidak cukup kuat menahan desakan ini
akan terjadilah kelainan-kelainan kejiwaan seperti psikoneurose atau psikose.
Dorongan-dorongan yang terdapat dalam ketidaksadaran sebagian adalah
dorongan-dorongan yang sudah ada sejak manusia lahir, yaitu dorongan seksual
dan dorongan agresi, sebagian lagi berasal dari pengalaman masa lalu yang
pernah terjadi pada tingkat kesadaran dan pengalaman itu bersifat traumatis
(menggoncangkan jiwa), sehingga perlu di tekan dan dimasukkan dalam
ketidaksadaran. Segala tingkah laku manusia menurut freud, bersumber pada
dorornga-dorongan yang terletak jauh di dalam ketidaksadaran, karena itu
psikologi freud disebut juga psikologi dalam (Depth psychology). Selain itu
teori freud disebut juga sebagai teori psikodinamik (dynamic psychology),
karena ia menekankan kepada dinamika atau gerak mendorong dari
dorongan-dorongan dalam ketidaksadaran itu ke kesadaran.
Psikoanalisis adalah sebuah
model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan metode
psikoterapi. Psikoanalisis berasal dari uraian tokoh psikoanalisa yaitu Sigmund
Freud yang mengatakan bahwa gejala neurotic pada seseorang timbul karena
tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan
ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatic dari pengalaman
seksual pada masa kecil. Selain itu, Freud juga mengatakan bahwa perilaku
manusia ditentukan oleh kekuatan irasional yang tidak disadari dari dorongan
biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa lima tahun pertama
dalam kehidupannya.
Sumbangan utama psikoanalisis
:
1. kehidupan mental individu
menjadi bisa dipahami, dan pemahaman terhadap sifat manusia bias diterapkan
pada perbedaan penderitaan manusia
2. tingkah laku diketahui
sering ditentukan oleh factor tak sadar
3. perkembangan pada masa
dini kanak-kanak memiliki pengaruh yg kuat terhadap kepribadian dimasa
dewasa
4. teori psikoanalisis
menyediakan kerangka kerja yg berharga untuk memahami cara-cara yg di use oleh
individu dalam mengatasi kecemasan
5. terapi psikoanalisis telah
memberikan cara-cara mencari keterangan dari ketidaksadaran melalui
analisis atas mimpi-mimpi
Konsep-konsep utama terapi psikoanalisis ;
1. Struktur
kepribadian
Id (tidak memiliki kontak
yang nyata dengan dunia nyata, id berfungsi untuk memperoleh kepuasan sehingga
disebut sebagai prinsip kesenangan)
Ego (disebut juga sebagai
prinsip kenyataan. Ego berhubungan langsung dengan duni nyata, ego juga
memiliki peran untuk mengambil keputusan dalam kepribadian. Ego menjadi penengah/penyeimbang
antara id dan superego)
super ego (disebut sebagai
prinsip ideal. Kepribadian yang terlalu didominasi oleh super ego akan merasa
selalu bersalah, rasa inferiornya yang besar)
2. Kesadaran
& Ketidaksadaran
a. Konsep ketidaksadaran
· mimpi yang merupakan pantulan
dari kebutuhan, kenginan dan konflik yang terjadi dalam diri
· salah ucap / lupa
· sugesti pasca hipnotik
· materi yang berasal dari
teknik asosiasi bebas
· materi yang berasal dari
teknik proyektif
3. Kecemasan
Adalah
suatu keadaan tegang atau takut yang mendalam akan peristiwa yang akan
terjadi/belum terjadi. Kecemasan juga timbul akibat konflik dari id, ego, dan
superego. Kecemasan terdiri dari 3 jenis yaitu kecemasan neurosis yaitu cemas
akibat bahaya yang belum diketahui, kecemasan moral yaitu cemas akibat konflik
antara kebutuhan nyata/realistis dan perintah superego, dan yang ketiga adalah
kecemasan realistis yaitu kecemasan yang terkait dengan rasa takut misalnya
kecemasan akan bahaya.
Tujuan
terapi :
1)
Mengungkapkan konflik-konflik yang dianggap mendasari munculnya ketakutan yang
ekstrem dan reaksi menghindar yang menjadi karakteristik gangguan ini.
2)
Membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat pasien sadar akan
hal yang selama ini tidak disadarinya.
3) Focus
pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
Peran
terapis :
1)
Membantu pasien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam
melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
2)
Membangun hubungan kerja dengan pasien, dengan banyak mendengar &
menafsirkan
3)
Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan pasien
4)
Mendengarkan kesenjangan & pertentangan pada cerita pasien
Teknik –
teknik dalam terapi psikoanalisa :
1. Asosiasi
bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu
& pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatik di
masa lalu.
2. Penafsiran adalah
suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi,
resistensi-resistensi dan transferensi. Bentuknya tindakan analis yang
menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien
makna-makna tingkah laku.
3. Analisis Mimpi
adalah Suatu prosedur yg penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak
disadari dan memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yang tak
terselesaikan.
4. Analisis dan
Penafsiran Resistensi
→ Ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang
ada dibalik resistensi sehingga dia bias menanganinya.
5. Analisis &
Penafsiran Transferensi
→ Adalah teknik utama dalam Psikoanalisis karena mendorong klien
untuk menghidupkan kembali masa lalunya dalam terapi.
TERAPIS RASIONAL EMOTIF
(ALBERT ELLIS)
Albert Ellis terkenal
sebagai pemikir dan pencetus rasional emotif terapi, sebuah bentuk terapi yang
populer dan banyak digunakan dalam proses konseling saat ini.
Albert Ellis dilahirkan pada tahun 1913 di Pittsburgh, Amerika
Syarikat. Pada saat mencetuskan teorinya, dia mendapati bahwa teori
psikoanalasis yang dipelopori oleh Freud tidak mendalam dan adalah satu bentuk
pemulihan yang tidak saintifik. Pada awal tahun 1955, beliau telah menggabungkan
terapi-terapi kemanusiaan, fisolofikal dan tingkah laku dan dikenali
sebagai teori emosi-rasional (RET/ Rational Emotive
Therapy). Semenjak itu beliau terkenal sebagai bapak kepada teori RET dan
salah satu tokoh teori tingkah laku kognitif.
Terapi rasional emotif adalah sistem psikoterapi yang mengajari individu
bagaimana sistem keyakinannya menentukan yang dirasakan dan dilakukannya pada
berbagai peristiwa dalam kehidupan. Penekanan
terapi ini pada cara berpikir mempengaruhi perasaan, sehingga termasuk dalam
terapi kognitif. Terapi ini diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Albert Ellis,
seorang psikolog klinis. Awalnya terapi ini bernama terapi rasional, namun
karena banyak memperoleh anggapan keliru bahwa mengeksplorasi emosi-emosi klien
tidak begitu penting bagi Ellis. Sehingga pada tahun 1961 dia
mengubah namanya menjadi terapi rasional emotif. Ellis menggabungkan terapi
humanistik, filosofis, dan behavioral menjadi terapi rasional emotif (TRE). TRE
banyak kesamaan dengan dengan terapi yang berorientasi pada kognisi, perilaku
dan perbuatan dimana TRE menekankan pada berpikir, memikirkan, mengambil
keputusan, menganalisis dan berbuat. TRE didasarkan pada asumsi bahwa kognisi,
emosi, dan perilaku berinteraksi secara signifikan dan memiliki hubungan sebab
akibat timbal balik.
Pandangan pendekatan rasional
emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert
Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent
event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang
kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.
1.
Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar
individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau
sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi
masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
2.
Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu
terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua
macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan
yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional
merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal,
bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional
merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk
akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
3. Emotional consequence (C)
merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam
bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent
event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi
disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang
rB maupun yang iB.
Selain itu, Ellis juga
menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus melawan
(dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati
dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dari keyakinan-keyakinan yang
rasional.
Sebagai contoh, “orang
depresi merasa sedih dan kesepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya
tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang depresi sama
saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah
menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan menyerang
keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri.
Langkah-langkah Terapi
Rasional Emotif
1. Terapis berusaha menunjukkan bahwa cara berfikir klien harus logis
kemudian membantu bagaimana dan mengapa klien sampai pada cara seperti itu,
menunjukkan pola hubungan antara pikiran logis dan perasaan yang tidak bahagia
atau dengan gangguan emosi yang di alami nya.
2. Menunjukkan kepada klien bahwa ia mampu mempertahankan perilakunya
maka akan terganggu dan cara pikirnya yang tidak logis inilah yang menyebabkan
masih adanya gangguan sebagaimana yang di rasakan.
3. Bertujuan mengubah cara berfikir klien dengan membuang cara
berfikir yang tidak logis
4. Dalam hal ini konselor menugaskan klien untuk mencoba melakukan tindakan
tertentu dalam situasi nyata
Teknik
Konseling Rasional Emotif (RET)
Pendekatan
konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif,
afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik
dimaksud antara lain adalah sebagai berikut.
1. Teknik-Teknik
Emotif (Afektif)
Teknik
ini dilakukan untuk mengubah emosi klien. Ini sepenuhnya melibatkan emosi klien
saat ia melawan keyakinan-keyakinannya yang irasional. Teknik ini seperti; Rational Emotive
Imagery, Humor, Imitasi, Assertive adaptive, Role
Playing, Shame-attacking, Force and Vigor.
a. Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk
melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus
menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang
diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
b.
Bermain peran
Teknik
untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan
negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien
dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
c.
Imitasi
Teknik
untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan
maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.
2. Teknik-teknik
Behavioristik
Teknik
ini lebih digunakan khusus untuk mengubah tingkah laku. Teknik ini
dinegosiasikan dengan klien atas dasar sifatnya yang menentang, tetapi tidak
sampai membuat kewalahan, yaitu, tugas-tugas yang cukup menstimulasi untuk
mewujudkan perubahan terapeutik, namun tidak terlalu menakutkan karena justru
akan menghambat menjalankan tugas-tugas tersebut. Teknik ini
seperti; Teknik Peneguhan (Reinforcement), Desintisasi
Bersistematik, Teknik Modelling, Teknik Releksasi.
a.
Reinforcement
Teknik
untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan
jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). eknik ini
dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada
klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif.
Dengan
memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan menginternalisasikan
sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
b.
Social modeling
Teknik
untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. Teknik ini dilakukan
agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara
imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan
menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah
tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
3. Teknik-teknik
Kognitif
Teknik
ini membantu klien berpikir mengenai pemikirannya dengan cara yang lebih
konstruktif. Klien diajarkan untuk memeriksa bukti-bukti yang mendukung dan
menentang keyakinan-keyakinan irasionalnya dengan menggunakan tiga kriteria
utama: logika, realisme dan kemanfaatan. Teknik ini
seperti; Menyingkirkan Kepercayaan Tidak Rasional, Tugasan
Kognitif, Changing One’s Langguage, Pengajaran, Persuasif.
a. Home work assigments,
Teknik yang dilaksanakan
dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan
menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang
diharapkan.
Dengan tugas rumah yang
diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan
perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan
tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru,
mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan
Pelaksanaan home work
assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan
tatap muka dengan konselor. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan
mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta
kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi
ketergantungannya kepada konselor.
b. Latihan assertive
Teknik untuk melatih
keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang
diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru model-model sosial.
Maksud utama teknik latihan
asertif adalah :
b) mendorong kemampuan klien
mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya;
c) membangkitkan
kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau
memusuhi hak asasi orang lain;
d)
mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri; dan
e) meningkatkan kemampuan
untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.
Sumber:
Corey,
Gerald. 2009. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.
Gunarsa,
S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia
No comments:
Post a Comment