Search This Blog

Friday, June 19, 2015

Tugas Softskill

#3 Artikel Psikologi yang Kreatif
 
Tes IST (Intelligenz Struktur Test)

Tes IST merupakan salah satu tes yang digunakan untuk mengukur inteligensi individu. Tes ini dikembangkan oleh Rudolf Amthauer di Frankfurt, Jerman pada tahun 1953. Amthauer mendefinisikan inteligensi sebagai keseluruhan struktur dari kemampuan jiwa-rohani manusia yang akan tampak jelas dalam hasil tes. Intelegensi hanya akan dapat dikenali (dilihat) melalui manifestasinya misalnya pada hasil atau prestasi suatu tes.

Berdasarkan pemikiran ini Amthauer menyusun sebuah tes yang dinamakan IST dengan hipotesis kerja sebagai berikut: “Komponen dalam struktur tersebut tersusun secara hierarkis; maksudnya bidang yang dominan kurang lebih akan berpengaruh pada bidang-bidang yang lain; kemampuan yang dominan dalam struktur intelegensi akan menentukan dan mempengaruhi kemampuan yang lainnya.”

 Pandangan Amthaeur pada dasarnya didasari oleh teori faktor, baik itu teori bifaktor, teori multifaktor, model struktur inteligensi Guilford dan teori hirarki faktor. Berdasarkan teori faktor, untuk mengukur inteligensi seseorang diperlukan suatu rangkaian baterai tes yang terdiri dari subtes-subtes. Antara subtes satu dengan lainnya, ada yang saling berhubungan karena mengukur faktor yang sama (general factor atau group factor), tapi ada juga yang tidak berhubungan karena masing-masingnya mengukur faktor khusus (special factor). Sedangkan kemampuan seseorang itu merupakan penjumlahan dari seluruh skor subtes-subtes. Maka Amthauer menyusun IST sebagai baterai tes yang terdiri dari 9 subtes (Polhaupessy, dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009).

Karakteristik dari baterai tes Amthauer menunjukkan adanya suatu interkorelasi yang rendah antar subtesnya (r=0.25) dan korelasi antara subtes dengan jumlah (keseluruhan subtes) yang rendah pula (r=0.60).

Semenjak diciptakan, IST terus dikembangkan oleh Amthauer dengan bantuan dari para koleganya
  • Hal yang menarik bagi kelompok adalah dengan sebuah tes kita dapat mengukur intelegensi seseorang.
  • Prospek jangan panjang akan sangat memudahkan psikolog untuk mengukur intelegensi seseorang dan menempatkan pekerjaannya yang sesuai dengan intelegensi dan kemampuannya pasti akan terus berkembang karna manfaatnya yang sangat berguna pasti akan selalu di butuhkan.
  • Tantangannya: peserta yang mengikuti tes sering mengalami kesulitan dalam menghadapi tes ini.

Lie Detector

Orang-orang berbohong dan menipu orang lain karena berbagai alasan. Paling sering, berbohong adalah mekanisme pertahanan yang digunakan untuk menghindari masalah dengan hukum, atasan atau figur otoritas. Terkadang, Anda dapat mengetahui bahwa seseorang itu berbohong, tetapi lain waktu mungkin tidak begitu mudah. Polygraphs, atau yang biasa disebut “detektor kebohongan/lie detector” adalah alat yang memantau seseorang melalui reaksi fisiologis.


Tampak bagian jari jari orang yang di tes di pasangi sebuah sensor yang terhubung ke mesin


Tampak diatas sensor sensor juga dipasang di sekitar dada dan lengan untuk mendeteksi nadi dan jantung
Sebuah instrumen poligraf pada dasarnya adalah kombinasi alat-alat medis yang digunakan untuk memantau perubahan yang terjadi dalam tubuh. seseorang akan ditanya tentang peristiwa atau kejadian tertentu, para pemeriksa (operator alat lie detector sekaligus biasanya seorang penyidik atau forensic psychophysiologist ) tampak melihat bagaimana detak jantung, tekanan darah, laju pernapasan dan aktivitas elektro-dermal (keringat, dalam kasus ini jari-jari) perubahan perbandingan tingkat normal.

Fluktuasi mungkin menunjukkan bahwa orang ini sedang menipu atau berbohong. Lie Detector mendeteksi adanya kebohongan dari sistem gelombang. bila seseorang bohong maka gelombang akan bergetar cepat. sebaliknya jika seseorang jujur, maka gelombang tidak bergetar dengan cepat dan tidak terdeteksi oleh Lie Detector

Saat seseorang melakukan sebuah tes kebohongan, maka orang tersebut akan dipasangkan 4 sampai 6 sensor, dan dihubungkan dengan sebuah gambar grafik yang menunjukkan hasil hasil dari pertanyaan yang diajukan. Sensor sensor tersebut biasanya merekam aktifitas seperti yang disebutkan diatas. Kadang-kadang poligraf juga akan mencatat hal-hal seperti gerakan lengan dan kaki.

Ketika tes poligraf dimulai, sang investigator atau penanya akan memberi 3-4 pertanyaan yang simpel dan sederhana dengan jawaban yang diketahui dengan tujuan untuk membentuk suatu fisiologis “dasar.”. setelah itu beranjak ke pertanyaan berat yang kemudian indikatornya bisa ditampilkan dalam sebuah grafik naik turun mirip sebuah sesimograph pencatat gempa.



  •  Hal yang menarik bagi kelompok adalah alat ini dapat mengetahui bahwa seseorang berbohong walaupun bahasa tubuhnya menutupi bahwa iya tidak berbohong.
  •  Prospek jangka panjang pasti akan sangat di butuhkan untuk mengetahui seseorang dia berbohong atau tidak. Dan pasti akan sangat berkembang karna peneliti pasti akan memperbaiki hal yang kurang pada alat tersebut.
  • Tantangannya: tidak semua seseorang yang berbohong mau untuk dites menggunakan alat ini karna secara tidak langsung dia akan membuka aibnya sendiri 




- Mata Kuliah Softskill-
           -1PA10-

1. Astri Deristianti
2. Ayuningtyas Pramatasari
3. Chantika Ariesty Silooy
4. Dian Ratnasari
5. Ishma Shabur Annisa


#2 Penemuan

Penemuan yang paling bermakna menurut kelompok kami adalah:

1.       Slingshot (Water Purifier)
Alasan kami memilih alat ini karena di Indonesia terkadang sulit untuk mendapatkan air bersih. Karna air bersih adalah kebutuhan yang sangat penting untung kelangsungan hidup banyak orang, dengan alat ini sumber air menjadi terjamin walaupun pada awalnya air itu berasal dari air yang tidak bersih.

2.       Sky Farm
Alasan kami memilih alat ini karena lahan pertanian di Indonesia sudah mulai berkurang karna lahan untuk persawahan yang mulai tergusur untuk perumahan dan berbagai tempat lainnya, Sky Farm adalah slah satu teknologi yang sangat membantu untuk lahan pertanian.

3.       Highway sky
Alasam kami memilih alat ini karna padatnya penduduk yang ada dikota kota besar yang sebagian besar memiliki kendaraan yang pasti akan membuat jalan padat di jam berangkat kerja dan pulang kerja. Highway sky akan sangat membantu mengurangi kepadatan jalan raya yang sering membuat macet jalanan yang sangat membosankan.
    Dari ketiga penemuan di atas menurut kelompok kami penemuan yang paling dibutuhkan/di perlukan di Indonesia adalah Slingshot (Water Purifer) karena masih banyak tempat di Indonesia yang krisis air bersih akibat sungai yang tercemar limbah rumah tangga maupun pabrik dengan adanya alat ini di Indonesia air yang sudah tercemarpun dapat kembali jernih dan aman untuk di konsumsi.


-Mata Kuliah Softskill-          
         -1PA10-

Astri Deristianti
Ayuningtyas Pramatasari
Chantika Ariesti Silooy
Dian Ratnasari
Ishma Shabur Annisa

#1 Vending Machine Kue Cubit

1.    Product

Nama mesin : Vending Machine Kue Cubit

Alasan          : karena sekarang ini kue cubit sedang trend , agar masyarakat lebih mudah mendapatkan kue cubit yang diinginkan tanpa harus datang ke restoran dan harus menunggu lama untuk mendapatkan kue cubit.


2.       Person

Yang terlibat dalam penciptaan karya ini adalah :

Yang mendukung keberhasilan :

  • Perusahaan pengguna jasa.
  • BPOM
  • DEPKES
Peran perusahaan pengguna jasa adalah mereka yang menyediakan bahan baku untuk membuat kue cubit dan berbagai perlengkapan lainnya.
Peran BPOM sudah mengecek kelayakan pangan untuk dikonsumsi masyarakat
Peran DEPKES sudah mengecek dari segikesehatan.

Untuk siapa target :

Vending machine kue cubit ini di peruntukan untuk berbagai kalangan masyarakat yang menyukai makanan kue cubit ini.

3.       Press

    1.       Apa yang memotivasi

               Karna sekarang kue cubit sedang naik daun dengan berbagai macam topping dan rasa yang menarik.  

    2.       Apa dampak positif dan negative

          Positif   :

  • Lebih memudahkan peminat kue cubit mendapatkannya
  • Masyarakat bisa memilih sendiri varian rasa dan toping hanya dengan menekan tombol yang berada di mesin.
  • Menghemat waktu untuk membeli kue cubit karna tidak harus repot datang ke café dan menunggu untuk waktu yang lama.
  • Untuk pembayaran bisa di lakukan dengan 2 cara bisa menggunakan electronic card atau uang tunai yang ada di mesin.
  •  Vending machine ini akan di sediakan di berbagai tempat umum misalnya di stasiun, kampus, pinggir jalan, di sekitar pusat kota, di mall.

     
    Negative  :
  •  Mesin kadang lebih suka eror
  • Masyarakat yang tidak tau cara pakai bisa salah pilihan
  • Butuh biaya banyak dan harus selalu di cek kebersihan dan keadaan adonan dan alat yang ada di dalam mesin
  • Terkadang electronic card tidak dapat di pakai, dan harus menggunakan uang pas ketika membayar dengan uang tunai.
         Prediksi    :
  
       Keadaan mesin kurang terawat karna banyaknya pemakai, dan masyarakat serta oknum yang tidak bertanggung jawab.
          Mendukung      : banyaknya peminat kue cubit.
          Menggagalkan : mungkin para pedagang kue cubit kaki lima dan café atau restoran kurang mendukung dan pasti banyak protes.

        Cara mengantisipasi :

  •  Memberikan sosialisasi kepada pedagang.
  •  Mengajari cara memakai vending machine ke masyarakat.
  •  Menghibau kepada masyarakat untuk merawat mesin tersebut.

4.       Proses


  • Membuat desain mesin yang akan dibuat.
  • Memberikan contoh mesin tersebut kepada perusahaan penerima jasa.
  • Jika mesin tersebut diterima dan layak pakai, kami meminta surat izin ke BPOM dan DIKES agar mesin tersebut dapat langsung digunakan.
  • Setelah meminta surat izin, kami langsung mengsosialisasikan cara menggunakan mesin tersebut kepada konsumen.
  • Vending Machine Kue Cubit siap untuk digunaka


- Mata Kuliah Softskill-
           -1PA10-

1. Astri Deristianti
2. Ayuningtyas Pramatasari
3. Chantika Ariesty Silooy
4. Dian Ratnasari
5. Ishma Shabur Annisa

Monday, June 15, 2015

Tugas Psikologi Umum II

" Potensi Belajar dan Berbahasa pada Anak"



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pendidikan pada hakekatnya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sebagi makhluk sosial. Tiap-tiap individu akan tumbuh dan berkembang cepat atau lambat dalam lingkungan yang terus berubah yang ditentukan antara lain oleh kemampuan pendidik dalam memahami tujuan yang hendak dicapai, keadaan anak didik yang dihadapi dengan segala latar belakangnya, sarana pendidikan, ketepatan memilih bentuk komunikasi pendidikan dan keadaan lingkungan, sehingga memungkinkan terjadinya interaksi edukatif atau tindakan yang bersifat mendidik dalam pergaulan pendidikan. Pernyataan diatas sesuai dengan prinsip pendidikan seperti tercantum dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara: “Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antar keluarga, masyarakat dan pemerintah”.
Tiap-tiap lingkungan pendidikan tersebut memberi pengaruh pada proses pendidikan yang diterimanya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kadar besarnya pengaruh dari masing-masing lingkungan tidak dapat diukur. Yang jelas ada pengaruh yang berarti dan mempunyai kesamaan dalam pencapaian tujuan yang dicita-citakan oleh bangsa, negara dan agama.
Dengan mengenali potensi belajar dan berbahasa pada anak orangtua harus belajar tentang semua hal yang berhubungan dengan cara mengenali potensi anak. Potensi merupakan kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud, yang dimiliki seseorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal.
Lakukan pengamatan dan identifikasi terhadap perilaku anak. Apakah anak mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu, seperti: dapat berjalan dan berbicara pada usia yang sangat dini, lebih cepat dari anak seusianya; mempunyai kecepatan dalam penguasaan berbagai informasi; mempunyai kemauan memperhatikan suatu persoalan dalam waktu yang lama, mempunyai perbendaharaan kata yang banyak sehingga mampu berkomunikasi dengan bahasa yang komunikatif pada usia dini dan mempunyai kemampuan mengekspresikan gagasannya dengan bahasa yang kompleks; mempunyai kemampuan menceritakan suatu kejadian (cerita) dengan cukup jelas; mempunyai kemampuan mengingat yang cukup tinggi; memiliki daya kreasi dan imajinasi yang tinggi dan sebagainya. Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perlakuan atau metode pendekatan yang dipakai untuk masing-masing anak dalam proses pembelajarannya juga berbeda.
Mengenali potensi anak dapat dilakukan dengan permainan. Permainan merupakan cara pertama untuk melatih kepekaan, daya imajinasi, kecenderungan, dan keterampilan anak. Permainan juga dapat digunakan untuk membentuk kemampuan alami dan intelektual anak. Permainan imajinatif ataupun simbolik akan membantu mengembangkan kecerdasan anak. Ketika kemampuan anak meningkat dalam menyelesaikan persoalan yang kompleks dalam permainan maka akan bertambah luas pula kadar informasi dan pengetahuan bahasanya dibandingkan dengan anak-anak lain yang sebaya dengannya. Pilihlah permainan yang dapat menumbuhkan kemampuan motorik dan kognitif sesuai dengan usianya. Permainan tradisional yang banyak menuntut bergerak aktif, seperti petak umpet, bermain drama atau lompat tali sangat baik dilakukan. Orangtua juga dapat mengenalkan anak dengan berbagai permainan edukatif yang dapat merangsang imajinasinya dan juga motoriknya, yakni dengan cara mengamati dan meraba; misalnya puzzle, kertas gambar, pensil warna dan sebagainya. Biarkan anak berkreasi sesukanya. Permainan-permainan seperti ini dapat mengembangkan kecerdasan dan imajinasi anak dengan cara menyenangkan. Jadi anak pun tertarik untuk mempelajari hal-hal baru dan tidak merasa terbebani. Jika anak masih muda, mulailah dengan puzzle sederhana. Seiring bertambahnya umur, orangtua ias memberikan puzzle yang lebih sulit. Untuk mengembangkan kemampuan bahasanya, lakukan kegiatan seperti membacakan buku cerita, permainan menyusun kata. Mengelompokan benda-benda di rumah berdasarkan kategori; misalkan benda berwarna merah, benda berbentuk bundar dan lain-lain akan dapat mengembangkan kemampuan logikanya. Menari, berolahraga, bermain sandiwara, boneka tangan akan dapat mengembangkan ketrampilan motoriknya. Jangan lupa libatkan anak yang lain ketika bermain agar kemampuan interpersonalnya juga berkembang dengan baik.


1.2  Rumusan Masalah
a.   Apa yang dimaksud dengan potensi belajar anak?
b.    Apa saja tahap perkembangan berbahasa pada anak secara umum?
1.3  Tujuan
a.    Untuk memahami potensi belajar anak!
b.    Untuk memahami perkembangan berbahasa pada anak!

BAB II
PEMBAHASAN

  1. Potensi Belajar Anak
Setiap anak memiliki kemampuan belajar yang berbeda-beda. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dan teknik pengajaran yang berbeda pula. Kita tidak bisa memaksakan seorang anak harus belajar dengan suasanan dan cara yang kita inginkan.Kemampuan anak dalam menangkap materi dan pelajaran tergantung dari gaya belajarnya. Banyak anak menurun prestasi belajarnya disekolah karena dirumah anak dipaksa belajar tidak sesuai dengan gayanya. Anak akan mudah menguasai materi pelajaran dengan menggunakan cara belajar mereka masing-masing. Menurut DePorter dan Hernacki (2002), gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Terdapat tiga jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses informasi (perceptual modality).
Tiga jenis gaya belajar tersebut adalah visual, auditory dan kinestetik. Masing-masing tipe punya keunggulan juga kelemahan.
·         VISUAL (Visual Learners)
Gaya Belajar Visual (Visual Learners) menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Ada beberapa karakteristik yang khas bagai orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya, kedua memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, ketiga memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik, keempat memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung,kelima terlalu reaktif terhadap suara, keenam sulit mengikuti anjuran secara lisan, ketujuh seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan. 
1.      Cenderung melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar.
2.      Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi.
3.      Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak.
4.      Tak suka bicara didepan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.
5.      Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan.
6.      Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan.
7.      Dapat duduk tenang ditengah situasi yang rebut dan ramai tanpa terganggu.

  • AUDITORI (Auditory Learners )
Gaya belajar Auditori (Auditory Learners) mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Ciri-ciri gaya belajar Auditori yaitu :
1.      Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang didiskusikan dalam kelompok/ kelas.
2.      Pendengar ulung: anak mudah menguasai materi iklan/ lagu di televise/ radio.
3.      Cenderung banyak omong.
4.      Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.
5.      Kurang cakap dalm mengerjakan tugas mengarang/ menulis.
6.      Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain.
7.      Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru dilingkungan sekitarnya, seperti hadirnya  anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll.

  • KINESTETIK (Kinesthetic Learners)
Gaya belajar Kinestetik (Kinesthetic Learners) mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya  ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
Ciri-ciri gaya belajar Kinestetik yaitu :
1.      Menyentuh segala sesuatu yang dijumapinya, termasuk saat belajar.
2.      Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak
3.      Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh: saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asyik menggambar.
4.      Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar.
5.      Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, symbol dan lambing.
6.      Menyukai praktek/ percobaan.
7.      Menyukai permainan dan aktivitas fisik.

B.  Tahap perkembangan berbahasa anak secara umum
Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode besar, yaitu: periode Prelinguistik (0-1 tahun) dan Linguistik (1-5 tahun). Mulai periode linguistik inilah mulai hasrat anak mengucapkan kata kata yang pertama, yang merupakan saat paling menakjubkan bagi orang tua. Periode linguistik terbagi dalam tiga fase besar, yaitu:
1. Fase satu kata atau Holofrase
Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kornpleks, baik yang bcrupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa pcrbedaan yang jelas. Misalnya kata duduk, bag: anak dapat berarti “saya mau duduk”, atau kursi tempat duduk, dapat juga berarti “mama sedang duduk”. Orang tua baru dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksudkan oleh anak tersebut, apabila kiia tahu dalam konteks apa kata tersrbut diucapkan, sambil mcngamati mimik (ruut muka) gerak serta bahasa tubuh lainnya. Pada umumnya kata pertama yang diurapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja.
2. Fase lebih dari satu kata
Fase dua kata muncul pada anak berusia sekkar 18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan predikat, kadang-kadang pokok kalimat dengan obyek dengan tata bahasa yang tidak benar. Setelah dua kata, muncullah kalimat dengan tiga kata, diikuti oleh empat kata dan seterusnya. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak tidak lagi egosentris, dari dan uniuk dirinya sendiri. Mulailah mcngadakan komunikasi dengan orang lain secara lancar. Orang tua mulai melakukan tanya jawab dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan kalimat-kalimatnya sendiri yang sederhana.
3. Fase ketiga adalah fase diferensiasi
Periode terakhir dari masa balita yang bcrlangsung antara usia dua setengah sampai lima tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak bukan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata demi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja. Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang “saya” untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan. Anak mulai dapat mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberitahu dan bentuk-bentuk kalimat lain yang umum untuk satu pembicaraan “gaya” dewasa.
Menurut Vygostky menjelaskan ada 3 tahap perkembangan bicara pada anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu :
1. Tahap eksternal. Yaitu terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan anak.
2. Tahap egosentris. Yaitu dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
3. Tahap Internal.Yaitu dimana dalam proses berpikir anak telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya.

Bicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Semenjak anak masih bayi string kali menyadari bahwa dengan mempergunakan bahasa tubuh dapat terpenuhi kebutuhannya. Namun hal tersebut kurang mengerti apa yang dimaksud oleh anak. Oleh karena itu baik bayi maupun anak kecil stlalu berusaha agar orang lain mengcrti maksudnya. Hal ini yang mendorong orang untuk belajar berbicara dan membuktikan bahwa berbicara merupakan alat komunikasi yang paling efektif dibandingkan dengan bentuk-bcntuk komunikasi yang lain yang dipakai anak sebelum pandai berbicara. Oleh karena bagi anak bicara tidak sekedar merupakan prestasi akan tctapi juga birfungsi nntuk mcncapni tujuannya, misalnya:
1) Sebagai pemuas kebutuhan dan keinginan.Dengan berbicara anak mudah untuk mcnjclaskan kebutuhan dan keinginannya tanpa harus menunggu orang lain mengerti tangisan, gerak tubuh atau ekspresi wajahnya. Dengan demikian kemampuan berbicara dapat mengurangi frustasi anak yang disebabkan oleh orang tua atau lingkungannya tidak mengerti apa saja yang dimaksudkan oleh anak.
2) Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain. Pada umumnya setiap anak merasa senang menjadi pusat perhatian orang lain. Dengan melalui keterampilan berbicara anak berpendapat bahwa perhatian Orang lain terhadapnya mudah diperoleh melalui berbagai pertanyaan yang diajukan kepada orang tua misalnya apabila anak dilarang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Di samping itu berbicara juga dapat untuk menyatakan berbagai ide, sekalipun sering kali tidak masuk akal-bagi orang tua, dan bahkan dengan mempergunakan keterampilan berbicara anak dapat mendominasi situasi “.ehingga terdapat komunikasi yang baik antara anak dengan teman bicaranya.
3) Sebagai alat untuk membina hubungan sosial. Kemampuan anak berkomunikasi dengan orang lain merupakan syarat penting untuk dapat menjadi bagian dari kelompok di lingkungannya. Dengan keterampilan berkomunikasi anak-anak Icbih mudah diterima oleh kelompok sebayanya dan dapat mempcroleh kescmpatan Icbih banyak untuk mendapat peran sebagai pcmimpin dari suatu kelompok, jika dibandingkan dengan anak yang kurang terampil atau tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik.
4) Sebagai alat untuk mengevaluasi diri sendiri. Dari pernyataan orang lain anak dapat mengetahui bagaimana perasaan dan pendapat orang tersebut terhadap sesuatu yang telah dikatakannya. Di samping anak juga mendapat kesan bagaimana lingkungan menilai dirinya. Dengan kata lain anak dapat mengevaluasi diri melalui orang lain.
5) Untuk dapat mcmpengaruhi pikiran dan peiasaan orang lain. Anak yang suka berkomentar, menyakiti atau mengucapkan sesuatu yang tidak menyenangkan tentang orang lain dapat menyebabkan anak tidak populer atau tidak disenangi lingkungannya. Sebaliknya bagi anak yang suka mcngucapkan kata-kata yang menyenangkan dapat merupakan medal utama .bagi anak agar diterima dan mendapat simpati dari lingkungannya.
6) Untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Dengan kemampuan berbicara dengan baik dan penuh rasa percaya diri anak dapat mempengaruhi orang lain atau teman sebaya yang berperilaku kurang baik menjadi teman yang bersopan santun. Kemampuan dan keterampilan berbicara dengan baik juga dapat merupakan modal utama bagi anak untuk menjadi pemimpin di lingkungan karena teman sebryanya menaruh kepercayaan dan simpatik kepadanya.
  • Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Pengenalan bahasa yang lebih dini dibutuhkan untuk memperoleh ketrampilan bahasa yang baik Dalam bukunya “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja” Syamsu Yusuf mengatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu: faktor kesehatan, intelegensi, statsus sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga.
Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:
a. Kognisi (Proses Memperoleh Pengetahuan)
Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang.
b. Pola Komunikasi Dalam Keluarga.
Dalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya.
c. Jumlah Anak Atau Jumlah Keluarga.
Suatu keluarga yang memiliki banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti.
d. Posisi Urutan Kelahiran.
Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak sulung memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.
e. Kedwibahasaan(Pemakaian dua bahasa)
Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi. Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia.
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi anak berbicara Awal masa kanak-kanak terkenal sebagai masa tukang ngobrol, karena sering kali anak dapat berbicara dengan mudah tidak terputus-putus bicaranya. Adapun faktor-faktor yang terpenting didalam anak banyak bicara yaitu:
    1. Inteligensi. Yaitu semakin cerdas (pintar) anak, semakin cepat anak menguasai keterampilan berbicara.
    2. Jenis disiplin. Yaitu anak-anak yang cenderung dibesarkan dengan cara disiplin lebih banyak bicaranya ketimbang pada suatu kekerasan.
    3. Posisi urutan. Yaitu anak sulung cenderung/didorong ortu untuk banyak berbicara daripada adiknya.
    4. Besarnya keluarga
    5. Status sosial ekonomi
    6. Status ras
    7. Berbahasa dua
    8. Penggolongan peran seks
·       Potensi Anak Berbicara Didukung oleh Beberapa Hal:
1) Kematangan alat berbicara. Kemampuan berbicara juga tergantung pada kematangan alat-alat berbicara. Misalnya tenggorokan, langit-langit, lebar rongga mulut dan Iain-lain dapat mempengaruhi kematangan berbicara. Alat-alat tersebut baru dapat berfungsi dengan baik setelah sempi’rpa dan dapat membentuk atau memproduksi suatu kata dengan baik scbagai permulaan berbicara.
2) Kesiapan berbicara. Kesiapan mental anak sangat berganrung pada pertumbuhan dan kematangan otak. Kesiapan dimaksud biasanya dimnlai sejak anak berusia antara 12-18 bulan, yang discbut teachable moment dari perkembangan bicara. Pada saat inilah anak betul-betul sudah siap untuk belajar. bicara yang sesungguhriya. Apabila tidak ada gangguan anak akan segera dapat berbicara sekalipun belum jelas maksudnya.
3) Adanya model yang baik untuk dicontoh oleh anak. Anak dapat membutuhkan suatu model tertentu -agar dapat melafalkan kata dengan tepat untuk dapat dikombinasikan dengan kata lain sehingga menjadi suatu kalimat yang berarti. Model tersebut dapat diperoleh dari orang lain, misalnya orang tua atau saudara, dari radio yang sering didengarkan atau dari TV, atau actor film yang bicaranya jelas dan berarti. Anak akan mengalami kesulitan apabila tidak pernah memperoleh model scbagaimana disebutkan diatas. Dengan scndirinya potcnsi anak tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya.
4) Kesempatan berlatih. Apabila anak kurang mendapatkan latihan keterampilan berbicara akan timbul frustasi dan bahkan sering kali marah yang tidak dimengerti penyebabnya oleh orang tua atau lingkungannya: Pada gilirannya anak kurang memperoleh moUvasi untuk belajar berbicara yang pada umumnya disebut “anak ini lamban” bicaranya.
5) Motivasi untuk belajar dan berlalih. Memberikan motivasi dan melatih anak untuk berbicara sangat penting bagi annk karena untuk memenuhi kebutuhannya untuk memanfaatkan potensi anak. Orang tua hendaknya selalu berusaha agar motivasi anak untuk berbicara jangan terganggu atau tidak mendapatkan pengarahan.
6) Bimbingan. Bimbingan bagi anak sangat. penting untuk mengembangkan potensinya. Oleh karena itu hendaknya orang tua suka memberikan contoh atau model bagi anak, berbicara dengan pelan yang mudah diikuti oleh anak dan orang tua siap memberikan kritik atau mcmbetulkan apabila dalam berbicara anak berbuat suatu kesalahan. Bimbingan tersebut sebaiknya selalu dilakukan secara terus menerus dan konsisten sehingga anak tidak mengalami kesulitan apabila berbicara dengan orang lain.
·         Langkah-langkah untuk membantu perkembangan bahasa anak :
1. Membaca. Kegiatan ini adalah kegiatan yang paling penting yang dapat dilakukan bersama anak setiap hari. Ketika orang tua membaca, tunjuklah gambar yang ada di buku dan sebutkan nama dari gambar tersebut keras-keras. Mintalah anak untuk menunjuk gambar yang sama dengan yang ada sebutkan tadi. Buatlah kegiatan membaca menjadi menyenangkan dan menarik bagi anak dan lakukanlah setiap hari.
2. Berbicaralah mengenai kegiatan sederhana yang orang tua dan anak lakukan dengan menggunakan bahasa yang sederhana.
3. Perkenalkan kata-kata baru pada anak setiap hari, dapat berupa nama-nama tanaman, nama hewan ataupun nama makanan yang disiapkan baginya.
4. Cobalah untuk tidak menyelesaikan kalimat anak. Berikan kesempatan baginya untuk menemukan sendiri kata yang tepat yang ingin dia sampaikan.
5. Berbicaralah pada anak setiap hari, dan pandanglah mereka ketika berbicara atau mendengarkan mereka. Biarkan mereka tahu bahwa mereka sangat penting.



BAB III
PENUTUP
3.1         Kesimpulan
a.     Setiap anak yang lahir memiliki kemampuan atau potensi yang disebut bakat.
b.     Potensi dan bakat yang ada dalam diri anak memiliki kemungkinan untuk berkembang dan dapat diwujudkan apabila telah tiba waktunya, tersedia kesempatan dan perangsang. 

3.2         Saran
a.   Agar potensi dapat berkembang secara optimal maka perlu adanya pembinaan. Pembinaan ini datangnya dari luar diri anak, yaitu lingkungang termasuk lingkungan pendidikan.
b.   Pendidik harus dapat menemukan potensi-potensi belajar apa saja yang dimiliki anak, dan harus berusaha untuk mengembangkannya, karena pendidikan merupakan tempat yang memberikan kesempatan kepada kemungkinan-kemungkinan (potensi) yang ada pada seorang siswa untuk berkembang.