Search This Blog

Thursday, November 26, 2015

Remaja Nekat Gantung Diri Karena Di-bully di Facebook.
Liputan6.com, Kolkata - Kasus pelecehan lewat internet alias cyberbully kembali memakan korban. Kali ini menimpa seorang remaja perempuan berusia 17 tahun di India. Ia nekat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri karena salah seorang temannya mem-bully dirinya di situs jejaring sosial Facebook. Korban adalah seorang siswi sekolah menengah kelas 11 di sebuah sekolah top di selatan Kolkata, India. Sebelum bunuh diri, gadis yang tidak disebutkan namanya itu meninggalkan sebuah catatan bunuh diri sebanyak 6 halaman. Catatan inilah yang kemudian menjadi dasar penyelidikan polisi.
Kasus ini bermula dari pertemanan sang gadis dengan seorang pria bernama Faisal Imam Khan, mahasiswa berumur 23 tahun. Keduanya berteman beberapa bulan lalu, dan dalam waktu singkat menjadi teman dekat. Namun, karena satu dan lain hal, sang gadis mulai menjaga jarak dengan pria tersebut.
Menurut laporan Times of India, tersangka Faisal sudah ditangkap. Dua temannya yang bernama Deepak Gupta dan Satish Shah, juga telah ditahan karena bersekongkol melakukan pelecehan. Selama interogasi, Deepak mengatakan bahwa gadis itu mulai menghindar. Faisal kemudian memutuskan untuk membalas dendam dengan memfitnah gadis itu di depan umum.
Ia bekerjasama dengan Deepak dan Satish, lalu membuatkan profil palsu tentang gadis itu. Mereka mengubah foto-fotonya dan mempostingnya lengkap dengan nomor telepon gadis itu. Di profil itu ditulis bahwa sang gadis 'mencari teman tidur' dan 'terbuka untuk berhubungan intim. Tak lama kemudian, banyak panggilan cabul masuk ke ponselnya. Remaja perempuan itu kemudian menyadari bahwa dia telah dijebak. "Karena tak menemukan jalan keluar, dia bunuh diri," kata penyidik​​. Sebelum membuat profil palsu dengan nama gadis itu, Faisal pertama kali memposting gambar rekayasa gadis itu pada profilnya sendiri.
Menurut penyidik, gadis tersebut gantung diri di atas balok besi dengan menggunakan kain selendang dupatta. "Dalam catatan bunuh diri, dia mengklaim bahwa dia terpaksa untuk bunuh diri setelah difitnah di situs jejaring sosial," kata penyidik Rashid Munir Khan. Polisi yang menyelidiki kasus ini tampak terguncang. "Kalau saja dia datang kepada kami sebelum mengambil langkah tersebut," kata salah seorang petugas. Para penyidik mengimbau anak-anak terutama remaja agar dapat banyak belajar dari insiden yang menyakitkan ini. "Kami memohon kepada semua korban cyberbullying untuk menghubungi kantor polisi setempat dan unit cyber. Kami akan memberikan semua bantuan hukum, konseling psikologis dan menghapus profil palsu itu," tegas Rashid.
ΓΌ  Pendekatan psikologi
Perkembangan Kognitif Remaja
Remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa dan umumnya dimulai pada usia 12 tahun dan berakhir pada usia 20 tahun (Papalia & Olds). Perkembangan psikologis remaja ditandai dengan perubahan cara pandang dan pola pikir. Interaksi antara faktor fisik dan psikis remaja berkonsekuensi kepada perubahan perilaku pada remaja.
Apabila ditinjau dari perkembangan kognisi dari Piaget, remaja telah memasuki tahap operasional formal, yaitu suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme, yaitu ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain dan hanya melihat masalah dari sudut pandang pribadinya sendiri.
Dalam perkembangan psikososial, E. Erikson mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity vs identity confusion. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat.
Remaja identik dengan kecenderungan mencoba hal baru, mudah mengalami perubahan minat, mudah tertarik terhadap suatu hal, namun mudah pula mengalami kebosanan. Persentuhan remaja dengan dunia maya menjadi lebih intens. Internet dianggap mampu memenuhi kebutuhan remaja untuk lebih mengenal dan memperluas lingkungan sosial.
Sesuai dengan tugas perkembangan remaja yaitu mulai mengembangkan keterampilaan komunikasi interpersonal dengan bergaul dengan teman sebaya dan orang lain secara individu maupun kelompok, minat remaja terhadap internet mengarah kepada keikutsertaan dalam situs jejaring sosial. Bagi remaja, facebook dianggap sebagai salah satu sarana untuk menunjukkan eksistensi diri remaja. Eksistensi tersebut berkaitan dengan penerimaan oleh kelompok dan teman sebaya. Keanggotaan dalam suatu kelompok dianggap sebagai bukti eksistensi diri remaja. Hal tersebut menjadi penjelas pesatnya perkembangan facebook pada remaja. Maraknya penyalahgunaan internet terutama facebook yang melibatkan remaja juga disebabkan karena kematangan kognitif yang belum sempurna dan kondisi emosi yang belum stabil.
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress).
Guanarso (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu :
·         Ketidakstabilan emosi.
·         Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
·         Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
·         Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
·         Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
·         Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
·         Senang bereksperimentasi.
·         Senang bereksplorasi.
·         Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
·         Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

Bunuh Diri Remaja perempuan lebih mungkin untuk berikir bunuh diri jika mereka merasa terasing atau tidak memiliki teman atau jika mereka mengenal seseorang yang melakukan bunuh diri (Bearman & Moody, 2004). Dibandingkan remaja laki-laki, remaja perempuan cenderung lebih banyak memiliki gangguan suasana hati dan gangguan depresi.
Bagaimanakah profil psikologis remaja yang bunuh diri? Mereka sering memiliki gejala depresi (Woolgar & Tranah, 2010). Meskipun tidak semua remaja depresi berusaha bunuh diri, depresi adalah faktor yang paling sering berkaitan dengan bunuh diri remaja (Bethell & Rhoades, 2008; Nrugham, Holen, & Sund, 2010).